Langsung ke konten utama

Postingan

Terorisme, Kemanusiaan dan Ketuhanan

Foto: alshahidwitness.com Indonesia kembali diguncang oleh aksi teroris. Rabu (13/11) sekitar pkl. 08.45 WIB, sebuah aksi bom bunuh diri terjadi di halaman Markas Polrestabes Medan. Bom itu dibawa dan diledakan sendiri oleh pelaku berinisial RMN yang baru berusia 24 tahun. Bom yang diikatkan di pinggang itu menewaskan pelaku sendiri dan melukai 6 orang lainnya.  Menarik untuk ditelisik soal identitas pelaku, meski pihak kepolisian belum secara rinci dan komprehensif mengungkap identitas RMN dan sepak terjangnya di dunia terorisme. Dilansir cnnindonesia.com , pelakua adalah seorang pria muda yang pernah tinggal di Jalan Jangka Gang Tenteram Kecamatan Medan Petisah. Tapi belakangan RMN sudah jarang terlihat di sana, karena sudah pindah ke tempat lain, masih di kota Medan. Baca juga: Radikalisme, Lampu Kuning Buat NKRI (1) Salah seorang tetangga menuturkan bahwa RMN pindah setelah menikah dengan seorang wanita bercadar, dan tidak pernah terlihat lagi di rumah lamany...

Manuver Surya Paloh Dan Kebesaran Hati Jokowi

Sejak Presiden Joko Widodo mengutak- atik nama calon menteri, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat, Surya Paloh sepertinya memperlihatkan gelagat politik yang tidak biasa. Puncaknya setelah Jokowi mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019. Partai Nasional Demokrat (Nasdem) pimpinan Surya Paloh mendapat jatah tiga kursi menteri, jumlah yang sama dengan jatah Nasdem dalam Kabinet Indonesia Kerja pada periode pertama pemerintahan Jokowi.  Meski porsi Nasdem tidak berkurang, namun berhembus rumor Surya Paloh merasa kurang hati dengan jatah yang diberikan Jokowi. Bukan karena jumlahnya terlalu sedikit, melainkan karena tiga krusi menteri yang diberikan Jokowi dianggap bukan posisi strategis. Nasdem mendapat jatah Menkominfo (Johni G. Plate), Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo) dan Menteri Lingkungan Hudup dan Kehutanan (Siti Nurbaya Bakar). Ditambah lagi, kursi Jaksa Agung yang pada periode lalu diduduki orang Surya Paloh, kini diberikan kepada figur la...

Ketika Virus Korupsi Menjalar Sampai ke Desa

Kejahatan korupsi sudah sangat akut di negeri ini. Di tengah heboh terbongkarnya mata anggaran janggal di KUA-PPAS APBD DKI untuk tahun 2020, kita dikejutkan oleh kabar yang sangat memprihatinkan tentang adanya penyelewengan dana desa. Adalah Menteri Keuangan, Sri Muliani yang mengungkap isu tentang adanya desa fiktif yang masuk dalam daftar penerima dana desa. Desa fiktif atau yang oleh Sri Muliani menyebutnya sebagai desa hantu, adalah desa yang ternyata tidak punya penduduk, atau desa yang hanya punya nama tapi tidak punya wilayah dan penghuni.  Seperti diketahui, pemerintahan Jokowi sejak tahun 2015 menggelontorkan dana desa dengan jumlah yang cukup fantastis, sekitar 1,3 miliar rupiah untuk masing-masing desa. Jumlahnya pun meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2019 pemerintah menggelontorkan uang senilai 72 triliun, jumlah yang tdiak sedikit.   Kita semua tertegun mengetahui kenyataan ini. Bagaimana tidak, dana desa yang bertujuan menggenjot pembangunan d...

Anies Baswedan, Sudahlah

Terbongkarnya anggaran siluman dalam rancangan kebijakan umum anggaran-prioritas plafon anggara sementara (KUA-PPAS) APBD DKI tahun 2020 masih menyisakan kebingungan besar di benak publik. Bagaimana bisa anggaran sebesar itu dibuat seolah-olah seperti sebuah simulasi main-mainan saja di jajaran Pemda DKI. Yang lebih membingungkan adalah ketika anggaran siluman itu terbongkar, para pihak yang terkait dengannya malah sibuk mencari pembenaran diri. Tidak ada rasa bersalah sama sekali dan buru-buru meminta maaf kepada rakyat karena telah memperkosa hak mereka untuk mendapatkan pelayanan yang maksimal lewat pengelolaan anggaran yang benar.  Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Gubernur DKI, Anies Rasyd Baswedan. Alih-alih meminta maaf, gubernur yang dipilih oleh 58% warga DKI ini justru sibuk mencari kambing hitam, mulai dari sistem e-budgeting yang menurutnya adalah biang persoalan anggaran setiap tahun di DKI, hingga perintahnya untuk mengusut tuntas dan mencari siapa diba...

Cadar & Celana Cingkrang

Di jaman modern dimana baju dan celana tidak lagi menjadi sekedar pembalut tubuh, urusan busana memang menjadi sangat penting. Motto you are what you wear , adalah gambaran bagaimana identifikasi jatidiri seorang manusia dengan pakaian yang dipakainya menjadi sebuah credo  baru para fashionista di abad ini.  Dan seperti urusan menu makanan, busana atau fashion  juga berkaitan dengan selera pribadi. Dan karena selera, maka ia tidak bisa diperdebatkan ( non disputandum) . Kita tidak bisa menilai anak muda yang senang memakai jeans belel sebagai gembel, karena toh banyak figur idola publik seperti para artis juga menyukai celana belel.  Tapi jangan lupa, fahsion tidak hanya cerminan jati diri atau selera pribadi semata. Ia juga adalah simbol sosial dan bagian integral dari budaya tertentu. Dalam ranah sosial dan budaya inilah berpakaian itu ada aturannya, ada etikanya. Para jurnalis, ketika menjalankan tugas peliputan di tempat biasa, mereka mengenakan ...

Skandal Lem Aibon & Pengelolaan Anggaran Yang Buruk

Karikatur: tagar.id Heboh kemunculan anggaran ganjil dalam rancangan KUA-PPAS 2020 DKI Jakarta, benar-benar membuat kita semua tertegun. Bukan lagi soal harga yang tidak patut untuk sebuah item kebutuhan yang perbandinganya bak langit dan bumi. Lebih dari itu, kemunculan item sim salabim itu membuka mata kita bagaimana seorang birokrat mengelola uang negara yang seharusnya diperuntukkan demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.  Sudarman selaku Kasubag Tata Usaha Sudin Pendidikan Jakarta Barat Wilayah I mengaku dialah yang memasukan item lem ibon dalam rancangan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa item itu dimasukannya secara sadar dan bukan sebuah kesalahan. Kok bisa? Menurut Sumartana hal itu dia lakukan karena pihak sekolah belum memasukan jenis barang yang dibutuhkan, sementara mereka harus mengunggah anggaran di sistem e-budgeting.  Sungguh pertanggungjawaban yang menggelikan. Bagaimana mungkin seorang kasubag memasukan item tanpa melakukan pengecekan terleb...

Terima Kasih PSI

Pada Agustus, menyambut pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta,  https://melekpolitik76.blogspot.com/   menurunkan sebuah artikel tentang harapan akan hadirnya gebrakan dari para kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kebon Sirih. ( Baca:  Menunggu Gebrakan Para Kader PSI Di Kebon Sirih ). Dalam tulisan tersebut, ada harapan pada para kader PSI yang duduk sebagai anggota legislatif DKI di Kebon Sirih, setelah melihat spirit para kader PSI yang begitu bersemangat menghadirkan pembaharuan di lingkup pemerintahan DKI Jakarta. Juga ada satu keyakinan bahwa para kader PSI yang rata-rata kawula muda itu mampu membuat perbedaan di Kebon Sirih.  Mereka pun membuktikannya. Gebrakan pertama yang mereka lakukan adalah menolak PIN emas yang akan disematkan pada anggota DPRD DKI. Logika mereka sederhana tapi rasional yakni bahwa, emas adalah simbol apresiasi bagi para juara. Bagaimana mungkin anggota DPRD DKI yang baru akan dilantik d...

Antara Anies, Lem Aibon dan KPK

Warga DKI kembali harus gigit jari. Baru saja diberitakan bahwa DKI terancam mengalami defisit anggaran, kini heboh pemberitaan tentang anggaran pengadaan lem aibon dengan harga yang abnormal yakni, 82 miliar rupiah. Selain anggaran pembelian lem aibon, juga terdapat anggaran pembangunan jalur sepeda senilai 73,7 miliar. DKI memang beda!  Anggaran dengan nilai fantastis itu diungkap oleh William Aditya Sarana yang merupakan anggota DPRD DKI dari PSI. William sempat bingung mengapa APBD DKI belum bisa diakses publik, padahal pembahasan anggaran sudah dimulai di DPR. Merasa janggal dengan hal tersebut, William pun mencoba mengakses situs  apbd.jakarta.go.id. Rupanya ada yang janggal dibalik tertutupnya situs anggaran DKI itu. Dan ketika berhasil mengaksesnya, Willian menemukan gulungan rupiah yang sangat banyak untuk pos yang sebenarnya receh, lem aibon.   Dalam hitung-hitungan normal William, jika anggaran sebanyak itu direalisasaikan, berarti setiap bu...

Amien Rais dan Lidahnya

Publik mungkin berpikir betapa enaknya menjadi seorang tokoh seperti Amien Rais. Dengan ketokohannya politisi senior ini seakan bisa mengatakan dan melakukan apa saja tak peduli dampaknya terhadap siapa pun. Lidah Amien piawai memainkan kata-kata dengan diksi yang menggetarkan. Entah karena tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli dengan imbas dari pernyataannya, Amien Rais seolah enteng melontarkan pernyataan yang pada akhirnya memakan kredibilitasnya sendiri. Sebab di usianya yang sudah beranjak senja, pernyataan-pernyataan Amien hampir pasti menjadi pepesan kosong. Banyak pernyataannya yang tidak teruji kebenarannya dan terkesan 'asal njeplak'. Amien seolah tidak paham bahwa kata-kata itu seperti pedang bermata dua. Ia bisa menyayat lawan tapi juga bisa mengiris diri sendiri. Ia misalnya, pernah mengatakan akan melengserkan Jokowi karena dianggap tak becus mengurus negara. Ia pun sesumbar mengatakan bahwa Soeharto saja bisa dilengserkan (apalagi hanya seorang ...

Jokowi, Mengapa Diam Saja?

"Jokowi terlalu santai menghadapi manuver Prabowo dan tim BPN", begitu kata teman saya yang seorang pendukung fanatik Jokowi. Saya tanya balik dan pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya, "Gerakan Prabowo yang mana?" "Itu lho, menolak hasil pilres. Katanya mau pakai people power segala". Saya menyimak dengan dahi berkerut, lalu memberikan penjelasan panjang lebar berikut.  Sekilas Jokowi memang terlihat sangat tenang, atau meminjam istilah teman saya tadi, 'santai' menghadapi berbagai macam manuver kubu capres 02 Prabowo Subianto, pasca Pemilihan Umum serentak 17 April 2019 lalu. Berbagai tuduhan disemburkan, mulai dari kecurangan yang diklaim terjadi secara terstruktur, masif, sistematis dan brutal, hingga upaya menggoreng dan menggiring fakta kematian ratusan petugas KPPS ke ranah politik. Semua itu secara tidak langsung "mencolok mata" Jokowi sebagai rival dalam Pilpres sekaligus Presiden Petahana yang masih berkuasa saat...