Oktober adalah bulan monumental bagi pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Di bulan ini, tepatnya 20 Oktober nanti, keduanya genap satu tahun menduduki tampuk pimpinan tertinggi di negeri ini. Selama satu tahun ini, pemerintahan Prabowo - Gibran telah meluncurkan sejumlah program unggulan. Salah satunya adalah, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak usia sekolah (mulai dari PAUD, hingga SMA/SMK) serta balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
Secara prinsip, program ini tentu sangat bermanfaat mengingat angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut data yang dirilis di laman situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Sekretariat Wakil Presiden, angka stunting di Indonesia mencapai 19,8 di tahun 2024. Angka itu disebutkan mengalami penurunan tipis, satu poin menjadi 18,8 di tahun 2025. Tingginya angka stunting di Indonesia tentu saja berpengaruh terhadap berbagai aspek.
Secara umum stunting menyebabkan pertumbuhan fisik yang tidak ideal, secara fisik anak-anak kurus dan pendek. Tidak hanya itu, stunting juga mengakibatkan gangguan perkembangan otak yang secara langsung menyebabkan turunnya kemampuan belajar. Secara spesifik, para ahli menyimpulkan setidaknya ada 6 dampak stunting terhadap manusia terutama pada anak-anak, yakni: tubuh kurus dan pendek, rentan menderita sakit, kecerdasan di bawah rata-rata, gangguan penglihatan, gangguan kesehatan mental, serta penyakit kronis.
Sebagai pemimpin yang ingin membawa Indonesia ke gerbang generasi emas yang ditargetkan tercapai pada 2045, Prabowo dan Gibran yakin bahwa pemberantasan stunting adalah salah satu poin penting terutama dalam meletakan fondasi yang kuat bagi terciptanya generasi bangsa yang sehat, cerdas, kreatif dan kuat. Prabowo dan Gibran percaya bahwa gerbang Indonesia emas hanya bisa kita capai jika kita memiliki sumber daya manusia yang memenuhi kriteria generasi unggul.
Tapi bagaimana tujuan visioner itu diraih bila generasi yang akan mendeliver Bangsa Indonesia ke gerbang emas itu tidak memiliki pewaris yang mumpuni? Jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks dan bahkan complicated. Sebab generasi yang kita harapkan untuk melanjutkan tongkat estafet bangsa ini dibelit secara nyata oleh berbagai persoalan, mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga masalah mental yang cukup akut.
Dunia pendidikan yang diharapkan sebagai seminarium atau persemaian bibit unggul generasi muda, dilanda berbagai persoalan yang berakar pada mental dan kesadaran para stakeholder akan pentingnya institusi tersebut sebagai rahim yang melahirkan generasi unggul secara akademik. Kita masih ingat bagaimana kontroversi masuk sekolah dengan menggunakan kuota berdasarkan jarak rumah dari sekolah; masalah suap masuk sekolah negeri favorit, hingga persoalan sarana dan prasarana yang tidak memadai di kawasan tertentu di Indonesia.
Pendidikan hanya satu dari sekian banyak problematika yang harus dientaskan demi melahirkan generasi unggul yang akan mendorong Indonesia menuju gerbang emasnya. Belum lagi kesulitan ekonomi yang seolah telah menjadi persoalan abadi sejak Indonesia merdeka. Kondisi ekonomi orang tua yang tidak memenuhi syarat kehidupan yang layak, membuat banyak anak-anak Indonesia harus ikut menanggung beban dengan membantu orang tua bekerja mencari nafkah. Alih-alih memikirkan pendidikan yang berkuailtas. setiap hari anak-anak yang lahir dari orang tua tak mampu harus bertarung dengan waktu demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Di dalam belenggu persoalan itulah, Prabowo dan Gibran hadir memberikan salah satu jalan keluar yang, banyak dipersoalkan, tapi juga memiliki nilai positif untuk anak-anak bangsa. Prabowo dan Gibran menawarkan program makanan bergizi gratis bagi anak-anak Indonesia, dengan harapan, asupan gizi yang diberikan akan menutirisi fisik anak-anak bangsa ini sehigga mereka terhindar dari masalah kekurangan gizi (stunting) yang berimbas pada menurunnya daya kognitif mereka.
Tidak hanya kepada anak-anak usia sekolah, program ini juga menyasar kaum yang sedang dalam masa mengandung. Tujuannya tentu saja, agar janin dalam rahim para ibu ini mendapatkan asupan gizi sejak dini. Selain menutrisi sang janin, makanan yang dibagikan juga diharapkan memenuhi kebutuhan nutrisi bagi sang ibu yang adalah rumah pertama sang anak.
Program ini tentu saja patut diapresiasi, meski banyak kritik yang menyebutnya sebagai program parsial dan tidak holistik karena pendekatannya hanya menyasar anak-anak, dan tidak menyentuh aspek ekonomi orang tua mereka. Dengan logika sederhana, dapat dikatakan begini, bagaimana anak-anak yang diberi makanan bergizi di sekolah bertransformasi menjadi generasi unggul jika sepulang sekolah mereka langsung dibelenggu kondisi ekonomi orang tua yang memaksa mereka bekerja sebelum waktunya? Bagaimana makanan bergizi yang diberikan memberi dampak signifikan, kalau sebagian sekolah kita kerap memberi karpet merah kepada anak-anak pejabat dan atau orang-orang berduit dan mengabaikan prestasi dan aspek akademik maupun non akademik anak didiknya?
Tapi mari kita abaikan persoalan lain di luar konteks makanan bergizi yang kini sedang digalakan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran. Mari kita pelototi setajam-tajamnya bagaimana program ini dijalankan di lapangan. Jujur, dari apa yang dicita-citakan oleh Prabowo-Gibran, program MBG masih jauh panggan dari api, baik secara kuantitas apalagi kualitas.
Secara kuantitas, program yang diharapkan mencapai target penerima sebanyak 82 juta pada tahun pertama, sampai saat ini jumlah yang disasar belum sampai setengahnya. Tentu saja target penerima yang tidak tercapai, berkaitan erat dengan sarana dan prasaran penunjang program ini. Dari target 32.000 dapur yang harus didirikan, sampai saat ini bahkan belum mencapai 10.000 dapur.
Artinya, secara kuantitas prgoram ini mengalami stagnasi yang cukup besar. Mengapa demikian? Dengan sokongan politik yang kuat karena merupakan program yang dicanangkan oleh presiden dan wakil presiden, seharusnya MBG berjalan cepat secepat kereta whoosh. Nyatanya laju pertumbuhan program ini jauh panggang dari api. Patut diduga, ada perbedaan kehendak politik (political will) antara penguasa dengan organ struktural di bawahnya.
Tapi dugaan lemahnya kemauan politik lintas sektoral dan struktural bukan satu-satunya faktor yang membuat MBG berjalan pelan bak kereta api yang harus melambat karena perbaikan rel yang tak kunjung selesai. Dugaan penyunatan dana tidak resmi juga membuat program mulia ini tidak menyentuh simpati dan empati masyarakat. Banyak anekdot tentang menu makanan yang disediakan, mulai dari irisan semangka setipis tisu, daging ayam yang sangat kecil, sayuran yang dihidangkan seadanya, hingga isu keracunan siswa, meski belakangan diduga ada upaya sabotase sebagai bagian dari black campaign terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Persoalan lain yang kerap dikeluhkan di ruang publik adalah tidak adanya transparansi dalam pengelolaan dapur MBG. Beberapa pihak merasakan ketidaktransparanan itu berawal dari informasi seputar titik-titik dimana dapur akan didirikan. Disebutkan bahwa sejumlah pihak yang ingin berkontribusi dalam program ini tidak mendapatkan infomrasi yang cukup memadai soal tempat dimana dapur MBG akan dibangun. Akibatnya, hanya mereka yang dekat dengan lingkaran kekuasaan saja yang memiliki akses informasi dan akhirnya mereka pulalah yang memiliki privilese untuk terlibat dalam tender pembangunan dapur.
Masih banyak isu yang muncul dari pelaksanaan program MBG yang, harus diakui diluncurkan dengan misi dan tujuan mulia. Semuanya kait mengait seperti mata rantai yang saling menyokong. Satu diputus, maka seluruh onderdilnya tidak akan berfungsi. Ketegasan Prabowo selaku presiden dan pemangku utama program MBG sangat diharapkan. Jika tidak, ratusan triliun uang negara yang digelontorkan untuk menyemai benih generasi unggul, akan menjadi mubazir dan sia-sia. TEMPO bahkan dengan tegas menyebutkan bahwa MBG bukan lagi program, melainkan project.
Jika MBG adalah project maka yang akan menikmatinya tentu saja para pengusaha dengan bisnis oriented, mengedepankan kalkulasi benefit secara finansial dan bukan lagi kualitas pelayanan dan tujuan akhir membangun manusia Indonesia yang unggul. Kalau sudah begini, maka MBG hanya akan menjadi sebuah dongeng yang enak didengar tanpa hasil nyata. Generasi yang menjadi target program itu sekarang, kelak hanya akan mengenang MBG sebagai program makan-makan di sekolah. Bahkan mereka bisa menyalahkan Prabowo karena terkesan hanya memanfaatkan kemiskinan mereka di masa lalu sebagai jalan menggunakan uang negara yang pada akhirnya hanya menguntungkan mereka yang ada di sekitar teras kekuasaan.
